Qodlo shalat fardhu

shalat qodloPertanyaan

Apakah betul shalat fardhu yang telah ditinggal itu tidak wajib diqadha, sebab tidak ada HADITS dan QUR’AN nya dan tobatnya cukup dengan menyesal saja ?

 

Jawaban
Makna QADHA menurut bahasa adalah sama maknanya dengan makna ADA’ yaitu menunaikan ibadah pada waktunya yang ditentukan, walaupun sekedar satu rakaat shalat. Sedangkan makna QADHA menurut istilah adalah menunaikan ibadah di luar waktunya sama sekali atau masih di dalam waktunya tetapi kurang dari ukuran satu rakaat shalat. Umpamanya seseorang shalat Dzuhur di akhir waktunya, belum dapat mengerjakan satu rakaat sudah masuk waktu Ashar, maka shalat itu dinamakan shalat QADHA.

Orang yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja atau mengerjakan shalat diundur-undur sampai keluar waktu shalatnya dengan sengaja adalah DOSA BESAR. Tidak patut bagi seorang muslim meninggalkan shalat fardhu tanpa sesuatu udzur syar’i yaitu KETIDURAN dan LUPA. Sedangkan yang lainya tidak termasuk UDZUR SYAR’I. Bagi orang yang meninggalkan shalat fardhu diwajibkan kepadanya dua perkara:

  1. Bertaubat kepada Allah dengan segala syaratnya yaitu menarik diri dari keberaniannya meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja dan menyesal atas keberaniannya itu dan bercita-cita tidak akan melakukan hal demikian itu kembali di masa-masa akan datang.
  2. Mengqadha (membayar) dengan segera bagi shalat fardhu yang telah ditinggalkan dan tidak diperkenankan baginya melakukan shalat-shalat lain.

Tersebut dalam kitab Fathul Mu’in pada Hamisi I’anatutthalibin juz I hal 23 sebagai berikut:

 

وَيُبَادِرُ مَنْ مَرَّ بِفَائِتٍ وُجُوبًا إِنْ فَاتَ بِلاَ عُذْرٍ فَيَلْزَمُ الْقَضَاءُ فَوْرًا. وَقَالَ شَيْخُنَا أَحْمَدُ بْنُ حَجَرِ: وَالَّذِى يَظْهَرُ أَنَّهُ يَلْزَمُهُ صَرْفُ جَمِيعِ زَمَنِهِ لِلْقَضَاءِ مَا عَدَا مَا يَحْتَاجُ لِصَرْفِهِ فِيْمَا لاَبُدَّ مِنْهُ وَإِنَّهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِ التَّطَوُّعُ

Dan wajiblah menyegerakan, bagi orang-orang yang meninggalkan shalat untuk mengqadha yang luput tersebut jika luputnya dengan tanpa suatu udzur. Telah berkata guru kami Ahmad bin Hajar: “dan menurut apa yang jelas, bahwa wajib menggunakan seluruh kesempatan untuk Qadla, terkecuali pada waktu yang diperlukan untuk keperluan hidupnya. Dan haram baginya mengerjakan pekerjaan shalat sunat

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Nabi bersabda:

 

مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّيهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةً لَهَا إِلاَّ ذَالِكَ

Barang siapa yang terlupa shalat maka hendaklah dilakukannya shalat ketika ia ingat. Dan tidak ada suatu tebusan apapun kecuali membayar shalat saja. (HR. Bukahri – Muslim)

Sedang bagi Imam Muslim ada riwayat:

 

إِذَ رَقَدَ أَحَدُكُمْ مِنَ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّيهَاإِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى

Apabila ketiduran salah seorang kalian hingga meninggalkan shalat atau terlupa darinya, maka hendaklah dilakukan shalat itu jika diingatnya. Karena sesungguhnya Allah swt berfirman: “dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (HR. Muslim)

 

Diriwayatkan pula dari Abu Qatadah bahwa berkata, para sahabat menceritakan kepada Nabi tentang ketidyran mereka sehingga keluputan shalatnya maka jawab Beliau:

 

أَنَّهُ لَيْسَ فِى النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَفْرِيْطُ فِى الْيَقَظَةِ فَإِذَا نَسِيَ أَحَدُكُمْ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّيهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Bahwa sesungguhnya tidaklah termasuk teledor jika ia tertidur. Hanya teledor itu dikala jaga. Maka apabila lupa salah seorang kalian akan shalat atau meninggalkan shalat karena tertidur maka hendaklah dilakukan shalat ketika ia ingat (HR. An Nasa’i dan At Tirmidzi)

 

Demikianlah hadits-hadits tersebut dengan manthuq (lafadz)nya menjelaskan tentang kewajiban mengqadha bagi orang yang meninggalkan shalat dengan sebab lupa dan tertidur. Dan dengan mafhum (tersirat)nya dengan mafhum muwafaqah atas jalan FAHWAL KHITAB (kondisi pelaku) menunjukkan kewajiban Qadla shalat atas orang yang meninggalkan dengan sengaja. Bahasa sederhananya “MENINGGALKAN SHALAT DENGAN SEBAB LUPA ATAU TERTIDUR SAJA WAJIB QADLA APALAGI KALAU MENINGGALKAN DENGAN SENGAJA”

Menurut Kaidah UShul Fiqh, hal ini termasuk dalam:

 

بَابُ التَنْبِيْهِ بِالْأَدْنَى عَلَى الْأَعْلَى

Bab memberikan perhatian dengan yang ringan atas yang lebih berat.

 

Apalagi jika memandang hadist Rasul yang dikeluarkan oleh Imam Muslim:

 

فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى   

Maka hutang kepada Allah, lebih hak dibayarkan

One Response to Qodlo shalat fardhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


4 − = 2

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>