MaulidPertanyaan:

Bagaimana hukumnya membaca Al Barzanji atau dilanjutkan dengan Marhaban. Apakah mendapat pahala ?

Jawaban

Membaca Al Barzanji berarti membaca SIRAH NABAWIYYAH, riwayat hidup Rasulullah saw yang ditulis oleh seorang Ulama Al Arif billahi Assayyid Ja’far Al Barzanji nafa’allahu bihi Amin

Barzanji itu adalah nama sebuah kota di Iraq. Lengkapnya nama pengarang kitab ini adalah Assayyid Ja’far bin Sayyid Hasan bin Sayyid Abdul Karim bin Sayyid Muhammad Al Madani bin Sayyid Rasul Al Barzanji. Pengarangnya telah mendo’akan bagi pembacanya dan pendengarnya dengan beroleh ampunan.

Sebagaimana beliau katakana menjelang akhir doanya dalam kitab tersebut, sebagai berikut:

فَاغْفِرْ لِنَاسِجِ هَذِهِ الْبُرُوْدِ الْمُحَبَّرَةِ الْمَوْلِدِيَّةِ . جَعْفَرٍ مَنْ إِلَى الْبَرْزَنْجِى نِسْبَتُهُ وَمُنْتَمَاهْ . وَحَقِّقْ لَهُ الْفَوْزَ بِقُرْبِكَ وَالرّجَاءَ وَالْأُمْنِيَّتِهْ . وَاجْعَلْ مَعَ الْمُقَرَّبِيْنَ مَقِيْلَهُ وَسُكْنَاهْ . وَاستُرْ لَهُ عَيْبَهُ وَعَجْزَهُ وَحَصْرَهُ وَعِيَّةْ . وَلِكَاتِبِهَا وَقَارِئِهَا وَمَنْ أَصَاخَ إِلَيْهِ سَمْعَهُ وَأَصْغَاهْ

Maka berilah ampunan, wahai Tuhan, bagi penenun selendang yang indah yang terbangsa kepada kelahiran Rasulullah saw yaitulah Ja’far, seorang yang terbangsa kepada Barzanji kebangsaannya dan sandarannya. Dan pastikanlah baginya keberuntungan dengan kehampirannya kepada Engkau, serta pengharapan dan cita-cita. Dan jadikanlah dia bersama Muqorrabin akan tempat peristirahatannya dan kediamannya. Dan tutupilah baginya kecelaan, kelemahan, keterbatasan dan kebingungannya. Dan bagi penulisnya, pembacanya dan orang yang menyondongkan pendengarannya dan memperhatikannya.

Tersebut dalam kitab I’anatutthalibin juz III, halaman 363 sebagai berikut:

فَائِدَةٌ: فِى فَتَاوِيَ الْحَافِظِ السُّيُوْطِى فِى بَابِ الْوَلِيْمَةِ (سُئِلَ) عَنْ عَمَلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ فِى شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ مَا حُكْمُهُ مِنْ حَيْثُ الشَّرْعُ ؟ وَهَلْ هُوَ مَحْمُوْدٌ أَوْ مَذْمُوْمٌ ؟ وَهَلْ يُثَابُ فَاعِلُهُ أَوْ لاَ ؟ قَالَ (وَالْجَوَابُ) عِنْدِي أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ الَّذِى هُوَ اجْتِمَاعُ النِّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْاءَنِ وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِى مَبْدَإِ امْرِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلّم وَمَا وَقَعَ فِى مَوْلِدِهِ مِنَ الْأَيَاتِ ثُمَّ يَمُدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنِهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَالِكَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِى يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلّم وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْإِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ

Faidah: tersebut dalam fatwa-fatwa Al Hafidz As Suyuthi dalam babul walimah. Beliau pernah ditanya tentang pengamalan Maulid Nabi di bulan Rabi’ul Awwal, apa diberi pahala pelakunya atau tidak ? Kata beliau: Dan penjawaban menurut saya, bahwa asal pengamalan Maulid yang ada adalah berkumpulnya orang banyak, dan membaca apa yang mudah dari pada Al Qur’an dan meriwayatkan hadits-hadits yang dating mengenai peristiwa Nabi saw dan apa yang terjadi pada masa kelahirannya dari pada tanda-tanda kebesaran Allah, kemudian dihidangkan untuk mereka hidangan-hidangan dimana mereka makan bersama, lalu bubar tidak lebih dari itu adalah tergolong BID’AH HASANAH yang diberi pahala atas pelakunya, karena terdapat di dalamnya memuliakan Nabi saw, menyatakan riang terhadap kelahirannya yang mulia itu.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


9 − = 8

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>